Assalamualaikum, wr.wb.
Berikut saya lampiran teks eksposisi Kompetensi Dasar 3.5
untuk keperluan pembelajaran 
kelas VIII E dan G.
Silakan unduh filenya, kemudian cetak! Jika ada pertanyaan, hubungi  Pak Gis via WA. Selamat belajar :)



Klik link di bawah ini!

Meluap menghempas segala yang ada di sekitar. Ternyata tak seseram yang terpikir. Lihat.. Mengalir lembut bak busa merah jambu. Gelembung pun mengembang beterbangan. Bukan lagi elok, bukan hanya sekadar tenteram, lebih dari itu. Terlalu. Gerak tawa tak bersuara saja tak mampu. Apalagi benar tertawa sebagai tanda bahagia. Bagaimana bisa aku begini? Berucap aku gelagapan, mimik merekah juga tak sepadan. Mungkin aku tenggelam, terlampau dalam.



Bahagia atau apa? Bagaimana mungkin? Arus itu terus membawaku. Begitu sopan, mengikat erat pergelangan tangan. Memperlihatkanku mega bercorak ukiran lucu berwarna biru yang sesekali berubah ungu, lalu bulan yang berguling-guling menari-nari tanpa henti, bahkan bintang yang berkedip manis membentuk kurva tak beraturan. Aku sedang tenggelam bukan terbang. Apa aku tak sadarkan diri? Terbawa ombak terbentur fantasi dari rasa yang aku punya saat ini? Entahlah.

Tak lagi meremang, kini aku merasai hanyut. Tenggelam sesekali mengapung, sampai akhirnya terdampar. Berujung pada pulau berpasir delima. Bertemu. Menemuimu. Dukun yang merangkap dalang dari cerita berbingkai madu dan rindu yang berhiaskan lagu-lagu merdu dari rangkaian beberapa mantera ramuan rayu. Dengarlah.. Kau perlu tahu.. Dengan atau tanpa semua itu, aku adalah penganggummu. Aku disini. Berdiri. Tanpa alas kaki. Tanpa baju berdasi. Tanpa setangkai mawar merah berduri. Aku disini. Membawakanmu hati.

Gissept | Maiwal, 13 Mei 2016
Jadi bagaimana lagi aku harus memulai bagian awal ini? Selalu merasa buntu setiap kali ingin bercerita (bukan!) berdongeng (bukan juga!) lalu apa? berkisah? (Ah aku tak tahu kata apa yg pas untuk menamaianya). Tdk secara langsung. Tdk dg ocehan lisan yg sebenarnya sama saja, terasa tdk lebih mudah ketika melakukannya.


Menyusun beberapa kata yang ujung-ujunganya menjadi kalimat kosong "tak bermakna, tak menarik sedikitpun" yg kadang buat jengkel.

Kurang puas, kurang pas, kurang kena, kurang bumbu, kurang greget, ah serba kekurangan. Kering. Tandus. Sejenisnya.

Tidak sesuai dg keinginan. Yang muluk. Yang berlebih. Yang berbunga-bunga. Mekar. Wangi. Semacamnya.

Yang setidaknya sama dg mereka yg begitu lihai merangkai kata demi kata. Lihai meramu ujaran menjadi sesuatu yg landep, luwes, sumringah, sayu, beku, cocok, tepat pd sasaran, terungkap, terbongkar, jelas sesuai isi hati.

Mungkin aku terlalu membandingkan. Tp bukankah semua akan lebih kentara jika dibandingkan? Sebagai bahan penilaian. Sebagai cara untuk mengoreksi kemampuan diri. Sebagai alat menyadarkan diri. Oh aku kurang ini, kurang itu, serba kekurangan. Lalu? Sebenarnya apa yg akan aku tulis kali ini? Terlalu berputar-putar, terlalu mondar-mandir (kemudian pengulangan apa lagi yg cocok untuk mewakilinya? Terlalu basa-basi? Atau terlalu ngetan-ngulon?). Aku menjadi gugup. Apa-apaan. Lagi-lagi omong kosong.

Baiklah. Apapun itu. Yang menjadi penting, menjadi utama, menjadi pokok, yang menjadi penutup, mengakhiri ketidakjelaskan (lagi) tulisan ku kali ini. Masihkah kamu bersedia untuk bersabar, menunggu, menemani, mendukung ku? Untuk menyempurnakan kata-kata, menyelesaikan kalimat, merampungkan sepenggal paragraf, demi sebuah (tidak! ku pikir akan lebih menyenangkan jika lebih dari satu, berkelanjutan, sampai aku tak bisa melakukannya) karya yg (niatnya) dpt membuatmu terenyuh, tenteram, terkenang, terdiam, terkantuk, lalu tertidur nyaman, tenang, senang, di pangkuan, pelukan, dekapan ku nanti? Seterusnya? Ku harap..

Kemungkinan, suatu saat nanti, kamu akan bosan dg pertanyaan ku yang selalu sama, selama ini. Lalu pergi, dg meninggalkan jawaban pasti; aku tak mau lagi. Dan kemungkinan lain, itu hanya akan menjadi sebuah kemungkinan yang tak akan pernah terjadi. Ku harap..

Sengaja ku bertanya, berulang-ulang, seperti gaya tulisku kali ini. Agar awet, tak putus, lalu menjadi panjang, tanpa disadari.

Aku mulai muluk. Meski dg ujung ketidakpuasan. Ya, aku masih, berjuang, mati-matian, berusaha, sekuat tenaga.

JULI, 2016
Perjalanan satu tahun ini telah membawa saya ke banyak cerita. Salah satu periode berkesan di hidup saya. Periode menyenangkan dimana saya dituntut untuk menunjukkan kesiapan saya dalam melayani masyarakat. Istilahnya mengabdi, mengajar-mendidik putera-puteri penerus bangsa di pelosok negeri.


Seperti yang sudah saya ceritakan. Berulang-ulang. Saya harus tinggal jauh dengan orangtua. Belajar bertanggung jawab terhadap diri sendiri; mandiri, belajar budaya baru, belajar tentang makna hidup, tentang banyak hal. Awalnya tidak mudah. Tapi, sejauh apa yang sudah saya lakukan selama ini, semuanya berjalan dengan baik dan lancar. Tidak ada kendala yang berarti. Yang ada hanyalah ucapan syukur yang selalu saya batin atau sesekali saya lisankan untuk hidup yang sudah saya dapatkan. Mengenal orang-orang baru, orangtua asuh, keluarga, teman, kebiasaan, adat, gaya bicara, semuanya, semua serba baru.

Dimana lokasi penempatan SM-3T?
Saya ditempatkan sendiri di kampung Maiwal, Desa Pintumas (Pindah Turut Masa), Kecamatan Alor Barat Daya, Kabupaten Alor. Kampung ini terletak persis ditengah-tengah wilayah kecamatan ABAD. Berada di tanah pegunungan-hutan yang berhawa sejuk dengan kondisi alam yang masih asri. Jumlah kepala keluarga di kampung ini sekitar 30 KK. Mayoritas bekerja sebagai petani kemiri. Kebanyakan dari mereka beragama Kristen Protestan, Islam, dan Katholik. Di kampung Maiwal terdapat tiga sekolah antara lain SD Negeri Maiwal sebagai sekolah tertua, kemudian TK-PAUD Holistik Integratif Negeri Maiwal, disusul SMP Negeri Maiwal, dan terakhir tempat saya mengajar, sekolah yang baru tiga tahun berdiri, SMA Negeri Maiwal. Sekolah-sekolah yang ada di kampung Maiwal merupakan sekolah utama anak-anak dari beberapa kampung seperti kampung Lakafeng, Lumafeng, Kafelulang, Orgen, dan Maimol yang memiliki jarak cukup jauh dari lokasi sekolah (kurang lebih 5-7km).


Bagaimana kondisi sekolah tempat bertugas?
Bangunan SMA Negeri Maiwal terletak sekitar 500 meter dari pemukiman penduduk, beralamatkan di Jalan Trans Maiwal-Buraga, jalan utama menuju desa Tribur (desa di ujung selatan pulau Alor). SMA ini dibangun di atas tanah seluas kurang-lebih 2 Ha, tanah pegunungan. Berdiri persis di tengah-tengah rimbunnya mamar (kebun) kemiri. SMA Negeri Maiwal didirikan pada bulan Juli 2013. Sejak tahun 2013 s.d sekarang memiliki jumlah siswa sebanyak 73 siswa yang terbagi atas enam rombel, yakni kelas X1, X2, XI IPA, XI IPS, XII IPA, dan XII IPS. Awalnya, pada tahun ajaran pertama 2013/2014 sampai awal tahun ajaran 2014/2015 SMA Negeri Maiwal masih meminjam/menumpang gedung SD Negeri Maiwal untuk proses belajar mengajar. Satu tahun berjalan, akhirnya SMA ini memiliki bangunan sekolah sendiri meskipun masih berupa gedung darurat berdinding balok kayu berlantaikan urukan tanah dan batu. Pada tahun 2016 ini, SMA Negeri Maiwal telah meluluskan siswa angkatan pertama sebanyak 18 siswa.

Lokasi sekolah dapat ditempuh dengan jalur darat menggunakan transportasi ojek (kendaraan roda dua) dari pusat kecamatan Alor Barat Daya yaitu Moru sekitar 1 jam perjalanan atau dari pusat kota kabupaten Kalabahi kurang lebih 2 jam perjalanan. Untuk sampai ke lokasi sekolah, dibutuhkan tenaga ekstra serta keahlian berkendara yang mumpuni karena kondisi jalan menanjak, menukik, bersebelahan langsung dengan dinding tebing serta jurang berkedalaman kurang lebih 500meter. Jalan menuju sekolah sebagian beraspal rusak, berlubang-lubang, sebagian lainnnya terbuat dari batu putih dan tanah merah.

Sekolah ini sedang berproses menjadi sekolah unggul, sekolah yang mampu menumbuhkan bibit-bibit baru yang berprestasi, berperilaku baik, mandiri, serta berdaya juang tinggi. Oleh karena itu, bagi yang berminat untuk membantu/mendonasikan buku ataupun peralatan sekolah lainnya, bisa hubungi alamat Email septingis@gmail.com (hehehe maaf sedikit promosi).

Apakah tinggal di Rumah Warga atau Mes Guru?
Kebetulan SMA Negeri Maiwal belum memiliki rumah dinas (Mes) khusus untuk para guru pendatang. Jadi, saya dititipkan oleh kepala sekolah (yang bertanggung jawab terhadap saya) tinggal bersama salah satu warga yaitu keluarga dari bapak Abdullah Djaha atau akrab dipanggil bapak Dullah. Keluarga ini berjumlah enam orang. Istri dari bapak Dullah, mama angkat saya disini, bernama mama Sita. Mereka memiliki empat orang anak diantaranya bernama dek Iwan, dek Maidi, dek Ardi, dan dek Tintin. Semua masih sekolah. Pekerjaan utama dari keluarga ini adalah tukang kayu dan tani kemiri.


Adakah kendala bahasa, makanan, atau hal lainnya?
Di Alor, bahasa Indonesia merupakan bahasa persatuan (saking banyaknya bahasa daerah, bahasa Indonesia digunakan sebagai bahasa sehari-hari). Mulai dari orangtua paling tua sampai anak muda paling muda sekalipun, semua bisa berbahasa Indonesia. Yang membedakan bahasa Indonesia umum dengan bahasa Indonesia yang dipakai di Alor yakni hanya pada aksen nada pengucapannya saja yang terdengar agak keras meninggi serta pemotongan-pemotongan kata seperti "saya" menjadi sa, "sudah" menjadi su, atau kata "juga" yang dipotong menjadi ju. Untuk bahasa daerah, di kampung Maiwal menggunakan bahasa Abui, bahasa suku terbesar di Alor yaitu suku Abui.

Alhamdulillah saya tinggal bersama keluarga Muslim. Untuk urusan makan, saya juga tidak ada kendala. Tidak jauh berbeda, saya juga makan sayuran, seperti misalnya sayur pucuk daun labu, daun singkong, marungga (daun kelor), paria (pare), labu jepang (jipan) jantung pisang, kangkung, bayam, dan kalau pun saya sedang beruntung saya juga bisa menikmati ikan belo-belo, ikan matanggolo, tongkol, ikan pancing, cumi-cumi atau bahkan kepiting (jika ada warga yang memberi). Di Alor makanan yang paling susah dicari dan terbilang mahal yaitu telur dan ayam. Harga satu butir telur berkisar antara 3-4rb, sedangkan harga ayam bisa mencapai 100rb untuk setiap ekornya.


Bagaimana dengan listrik dan jaringan telepon?
Listrik aman, jaringan telepon setengah mati (*setengah mati merupakan ungkapan masyarakat Alor untuk menyampaikan rasa kesusahan/kesulitan yang berlebihan). Di Desa Pintumas, dari tahun 2014 listrik mengalir 24jam full. Bukan lagi dari genset atau tenaga surya. Meskipun demikian, belum semua warga bisa menikmati listrik tersebut. Sedangkan jaringan telepon, desa ini masih belum tersentuh (sebenarnya ada jaringan hanya saja harus mendaki gunung terlebih dahulu). Lokasi yang berada di tengah pegunungan dengan akses jalan relatif sulit, mengakibatkan desa ini sulit terjangkau tower jaringan.

(FYI : Di Alor, setiap penempatan memiliki plus minus masing-masing. Jika ditempatkan di pesisir maka jangkauan signal terpenuhi, listrik aman, makan ikan hampir setiap hari, tapi sayur susah. Sedangkan penempatan di gunung, listrik jarang, signal tdk ada, tp sayur mayur melimpah).

Hal-hal menarik apa saja yang didapat selama mengabdi?
Banyak hal menarik yang saya temui selama saya mengabdi, antara lain panggilan bapak guru yg melekat di diri saya oleh murid dan masyarakat, menjumpai ruang guru yang kadang sepi (seakan saya yang punya sekolah), siswa yang sering tidak berangkat sekolah karena membantu orang tua pergi ke kebun untuk memanen kemiri, menjumpai salah seorang siswa yang membawa kambing ke sekolah karena takut kambingnya tidak ada yang menjaga di rumah, beberapa kali menemukan ular melingkar di dalam ruang kelas, hingga melakukan upacara dan menjadi pembina upacara pertama setelah tiga tahun sekolah berdiri. Satu hal lagi, saya bertemu dengan beberapa kawan guru honor hebat yang secara ikhlas mengabdikan dirinya mengajar anak-anak daerah dengan segala keterbatasan, bahkan sampai rela mengenyampingkan kesejahteraan hidup mereka sendiri.


Untuk di masyarakat, saya juga sering mendapati sesuatu yang jarang saya lihat di kehidupam kota seperti gotong royong yang masih sangat kental (mulai dari pesta pernikahan, pembangunan rumah, dll), upacara adat, serta kesenian daerah yang masih dijaga dengan baik. Toleransi juga sangat kentara dari masyarakat Desa Pintumas. Di tempat ini pula, saya merasa selalu diutamakan dalam hal apapun, misalnya makan disetiap acara pesta, pasti saya diminta yg pertama. Hal lain yang cukup menarik dari perjalanan tugas saya di Maiwal yaitu pernah jembatan penghubung desa menuju kota roboh yang mengakibatkan saya kesulitan mendapatkan bahan kebutuhan di penempatan selama beberapa bulan.

Ada kesan atau pesan untuk pengajar SM-3T Angkatan berikutnya? 
SM3T pilihan tepat untuk meningkatkan level diri. Saya sangat bersyukur bisa lolos dan menjadi bagian dari keluarga ini. Selain sebagai batu loncatan dalam hal karir, meraih cita-cita, menjadi guru profesional, saya belajar berani, survive, serta mandiri. Belajar menjadi seseorang yang bisa sedikit berbagi, bermanfaat, menginspirasi, menjadi teladan untuk orang lain khususnya anak-anak didik saya (meskipun kenyataannya saya masih jauh dari semua itu). Berkesempatan mengenal Indonesia di bagian lain dan menyadari bahwa sesungguhnya negara tercinta ini memang begitu kaya akan budaya serta alam yang luarbiasa. Mengikuti SM3T merupakan salah satu keberuntungan dan kebanggaan terbesar selama hidup saya (sejauh ini).

Pesan saya untuk teman-teman semua yaitu jangan ragu untuk mengikuti program ini. Banyak orang beranggapan hidup di pelosok begitu menakutkan. Tapi secara tegas akan saya bantah pernyataan-pernyataan demikian. Di pelosok tak selalu mengerikan, banyak hal-hal menganggumkan bisa kalian dapatkan. Orang-orang yang begitu baik, tradisi atau budaya yang unik, serta pemandangan alam yang sangat menarik menjadi sesuatu yang patut untuk disyukuri. Pengalaman yang belum tentu semua orang bisa dapatkan bisa kalian dapatkan. Teaching, Learning, and Traveling! Siapkan mental, bulatkan tekad, dan jangan lupa memohon izin doa restu dari orangtua tercinta. Semangat Mencerdaskan Kehidupan Anak Bangsa! Salam MBMI!

Semoga bermanfaat. Ini hanya sekadar berbagi pengalaman saja.
Gerakan #1001DongengUntukALOR adalah aksi sosial yang diprakarsai oleh para pengajar SM-3T UNY Angkatan V Kabupaten Alor berupa penggalangan dana bantuan uang atau buku untuk anak-anak pelosok Alor guna mendukung program Maju Bersama Mencerdaskan Indonesia (MBMI). Kesadaran, minat, pengetahuan masyarakat tentang pentingnya membaca yang masih rendah, serta fasilitas pendukung yang sangat minim, menjadi alasan utama dibentuknya gerakan ini.



Gerakan yang memiliki tujuan yaitu membangun rumah baca sebagai wadah dalam mengembangkan sumber daya manusia di Alor melalui kegiatan membaca secara dini ini, berjalan kurang lebih selama lima bulan dari bulan Januari sampai Mei 2016. Kegiatan dimulai dengan promosi-pengumpulan donasi (berupa buku atau uang) baik melalui sosial media atau pengajuan proposal ke beberapa tempat, kemudian pengadaan buku serta sarana penunjang lain dari dana bantuan yang sudah terkumpul, hingga penyaluran donasi dan pembangunan rumah baca di salah satu daerah 3T terpilih (sudah diresmikan pada tanggal 3 & 4 Mei 2016 dan diberi nama rumah baca Kelana Fantasi) yaitu di Kampung Lipang dan Kampung Pumi, Desa Pido, Kec. Alor Timur Laut, Kab. Alor, Prov. NTT.

Sekretaris Dinas Pendidikan Kabupaten Alor dalam sambutannya mengatakan, "Dari angkatan-angkatan sebelumnya, SM3T Angkatan V lah yang terlihat inovatif, kreatif, memiliki inisiatif lebih, menyumbang secara real apa yang bisa dimanfaatkan masyarakat, tidak hanya ilmu tapi memberi bantuan nyata berupa buku-buku yang sudah mereka kumpulkan dari beberapa bulan lalu, terlebih bantuan tersebut bukan dari pemerintah. Saya sangat mengapresiasi."

Sampai batas waktu yang telah ditentukan terkumpul bantuan dana sejumlah ±29juta. Sedangkan jumlah bantuan buku sebanyak ±700 eksemplar dengan berbagai macam jenis buku seperti buku cerita/bacaan, buku pelajaran, buku ilmiah/pengetahuan, dan buku agama. Bantuan yang terkumpul baik buku maupun uang sebagian dialokasikan untuk keperluan rumah baca (pembelian buku baru + pengiriman buku), sebagian lainnya dibagi rata ke setiap sekolah yang memang kekurangan atau membutuhkan tambahan buku.

"Ini semua berkat teman-teman di luar sana. Terkumpul donasi melebihi target awal. Kami berterimakasih atas kepedulian teman-teman yang secara ikhlas menyumbangkan buku atau uang untuk membantu membukakan jendela, memberi kesempatan kepada anak-anak Alor untuk mengelanakan fantasi dan imajinasi mereka, sehingga harapan kita hidup mereka akan lebih berwarna nantinya," ujar Dimas Fradinata selaku ketua panitia gerakan #1001DongengUntukALOR.

Melalui langkah kecil ini, tim SM-3T UNY Angkatan V Kabupaten Alor berupaya mereduksi kesenjangan, meregas ketimpangan, serta mencipta keseimbangan. Dengan tersedianya berbagai macam buku diharapkan dapat membuka dan menambah wawasan anak-anak maupun masyarakat agar mampu berpikir lebih luas dan memiliki kemauan untuk meraih cita-cita yang lebih baik. Sesungguhnya, menguntai aksara dengan membacanya laksana menyalakan api, setiap suku kata yang dieja akan menjadi percik yang menerangi. Salam tarimiti tominuku, salam MBMI!

Berikut foto-foto dokumentasi penyerahan dan peresmian bantuan buku serta rumah baca di Desa Pido, Alor Timur Laut, tanggal 2 & 3 Mei 2016 :












Kepada para donatur, sekali lagi kami mengucapkan terimakasih. Berkat bantuan saudara semua, acara dapat berjalan dengan lancar dan sukses. Semoga apa yang kita lakukan ini dapat bermanfaat bagi saudara-saudara kita yang membutuhkan.

Artikel ini juga dimuat di:UP

UNY 👉 https://uny.ac.id/berita/kelana-fantasi-1001dongeng-untuk-alor.html

Suara Merdeka 👉 berita.suaramerdeka.com/pengajar-sm3t-uny-prakarsai-aksos-1001-dongeng-untuk-alor/

Jogja Daily 👉 jogjadaily.com/2016/06/gerakan-1001-dongeng-untuk-alor-pengajar-sm-3t-uny-angkatan-v-bangun-rumah-baca/
Dalam rangka menyambut Hari Pendidikan Nasional (HARDIKNAS), ratusan siswa SD, SMP, SMA, dan guru tak terkecuali tim pengajar SM3T UNY 2015 Angkatan V, berkonvoi memadati jalan utama Kota Kalabahi, Sabtu (30/04/2016). Pawai tersebut dimulai pada pukul 14.00 WITA - selesai, start dari Lapangan Kadelang dan finish di Lapangan Mini. Kegiatan tersebut diadakan oleh pihak Dinas Pendidikan, Kebudayaan, dan Pariwisata (Disdikbudpar) Kabupaten Alor.


Berbagai macam atraksi dipertunjukkan, seperti marching band dari beberapa sekolah hingga parade; peragaan busana adat dari berbagai daerah yang ada di Indonesia. Meskipun terik matahari terasa menyengat, ribuan masyarakat berjejer rapih dipinggir jalan terlihat begitu antusias menyaksikan pawai tahunan tersebut.

"Jelas merupakan pengalaman baru bagi saya. Suatu kebanggaan bisa ikut merayakan Hardiknas di Alor dengan sangat meriah. Saya pikir perayaan tersebut menjadi bukti bahwa masyarakat masih menghargai hari pendidikan serta budaya mereka yang terus dilestarikan hingga sekarang. Harapannya, berbanding lurus, pendidikan di Alor juga semakin maju, baik dari segi pelayanan, sarana-prasarana, dan kualitas dari para tenaga pendidik," jelas Arif Setiawan salah satu pengajar SM3T penempatan Alor.

Senada, Ardian Nur Rizky menjelaskan, "Saya dipercaya memakai baju adat Alor dalam pawai kali ini. Tentu saya bangga. Semoga pendidikan Alor, Indonesia, tetap menjunjung adat budaya kita, menjunjung nilai kesantunan, keramahan, dan kelembutan."


Pendidikan memang tidak hanya soal matematika, geografi, atau biologi, tapi pendidikan itu terwujud dengan adanya aturan, adat istiadat, budaya yang setiap daerah memiliki kekhasan masing-masing. Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei sebaiknya menjadi momentum perubahan dalam bidang pendidikan baik dari sistem maupun hasil. Perlu diingat, Ki Hadjar mengajarkan bahwa untuk membentuk jiwa yang cerdas dan berbudi pekerti luhur harus melalui tertib laku atau kebiasaan yaitu dengan ngerti (mengerti), ngrasa (merasakan), dan nglakoni (melakukan).

Ucapan selamat layak diberikan pada tiga siswa SMA Negeri Maiwal yang telah memenangkan beberapa cabang lomba Olimpiade Olahraga Siswa Nasional (O2SN) tingkat Kabupaten Alor di Kecamatan Teluk Mutiara, pada Kamis, 21 April 2016 lalu. Ketiga siswa tersebut bernama Estepanus Manialou sebagai juara 2 (medali perak) cabor atletik, serta Ansarudin Lekay & Mendelson Atakari sebagai bagian dari tim kesebelasan kecamatan Alor Barat Daya yang menjuarai cabor sepak bola (medali emas) Piala Handayani.


Sebelumnya, ketiga siswa tersebut telah melakukan seleksi ketat menyingkirkan puluhan peserta yang berasal dari tiga sekolah menengah atas se-kecamatan Alor Barat Daya yaitu antara lain SMA Negeri Pailelang (ABAD), SMA Negeri Wolwal, dan SMA Negeri Buraga. Mereka akhirnya mewakili Kecamatan ABAD bersaing melawan kontingen dari 20 kecamatan lain yang ada di Kabupaten Alor dan berhasil membawa pulang beberapa prestasi mengejutkan.

Perlu diketahui bahwa O2SN merupakan salah satu acara tahunan nasional yang juga digelar oleh Dinas Pendidikan Kabupaten Alor secara besar dan meriah. Nantinya para pemenang akan mewakili Kabupaten Alor maju ke tingkat provinsi yakni provinsi Nusa Tenggara Timur.

"Tahun lalu kita bawa pulang satu piala FLS2N, tahun ini giliran kita bawa pulang dua medali O2SN. Di tahun ke tiga berdirinya sekolah ini, kita sudah mendapatkan beberapa prestasi luarbiasa. Tentu saya sangat bersyukur dan bangga kepada anak-anak yang telah berjuang mengharumkan nama SMA Negeri Maiwal. Saya berharap, ke depan SMA ini dapat memiliki lebih banyak prestasi, dan anak-anak semakin tangguh dalam berkompetisi," ujar Kepala Sekolah SMA Negeri Maiwal.

Dari pencapaian tersebut, beberapa hal penting yang bisa diambil, dipelajari, dan diterapkan oleh siswa-siswi lain adalah mental, ketekunan, usaha, dan kerja keras. Pepatah mengatakan, "hasil tidak akan mengkhianati usaha", artinya sebesar apa usaha yang kita lakukan, sebesar itu pula yang akan kita dapatkan. Harapannya, semoga anak-anak menjadi semakin berani bersaing, berdaya juang tinggi dalam mendapatkan prestasi-prestasi lain yang lebih baik lagi.

Sekali lagi saya ucapkan selamat untuk semua pemenang O2SN tingkat Kab. Alor. Tingkatkan kreativitas dan sportivitas.

Selain sebagai wadah dalam menyalurkan bakat dan potensi anak, event ini sekaligus sebagai ajang "persaingan gengsi" antar pengajar SM3T yang kebetulan bertugas mengajar di hampir seluruh desa-kecamatan yang ada di Kabupaten Alor. Heheuu.. Salam satu kedipan mata, "Ting!".
Sebagai wujud kepedulian terhadap kemajuan pendidikan di Indonesia, pada hari libur paskah, minggu terakhir bulan Maret 2016, komunitas #SahabatAlor kembali menyerahkan bantuan sarana pendidikan berupa sepatu dan tas ke beberapa sekolah dasar yang ada di kabupaten Alor yaitu antara lain Madrasah Ibtidaiyah Swasta Tulta yang terletak di desa Tulta, kecamatan Alor Barat Laut dan Sekolah Dasar Rualkameng yang terletak di desa Lakmale, kecamatan Alor Tengah Utara. 


Pada kesempatan kali ini, SM-3T UNY Angkatan V (saya dan teman-teman) yang kebetulan selama satu tahun bertugas mengajar di Alor dan memiliki misi-tujuan yang kurang lebih sama yakni membantu pendidikan di daerah terpencil, mencerdaskan Indonesia, juga turut berpartisipasi pada kegiatan rutin yang sudah berjalan cukup lama tersebut (terimakasih kerjasamanya tim #SahabatAlor). Kegiatan sosial ini dikenal dengan gerakan #1000Sepatu.

Selain memberikan bantuan peralatan sekolah, komunitas #SahabatAlor juga memberikan bantuan berupa makanan ringan (susu dan snack) serta penyuluhan kesehatan seperti cara menggosok gigi dan cara mencuci tangan yang baik dan benar.


Sejumlah siswa dan guru menyambut baik kedatangan tim komunitas #SahabatAlor dan SM-3T UNY Angkatan V. Mereka terlihat begitu antusias menerima tas dan sepatu baru serta penjelasan dari kakak-kakak dokter, pegawai, guru, dll. Kegiatan sosial #1000Sepatu tidak akan terlaksana tanpa bantuan para donatur yang tidak lain merupakan relasi dari anggota komunitas yang sebagian besar berasal dari kota-kota besar di jawa dan sumatera.

Perlu diketahui, #SahabatAlor merupakan wadah berkumpulnya para perantau, pekerja muda di Alor dari berbagai profesi seperti dokter, hakim, jaksa, guru, dan pegawai (pns/bumn/swasta) yang peduli, sukarela, bergerak mengumpulkan-memberikan bantuan berupa peralatan sekolah untuk para pelajar Alor yang memiliki ekonomi lemah. Beberapa waktu lalu, komunitas ini juga sempat diekspose oleh salah satu stasiun televisi nasional yaitu Kompas TV berkat aksi sosialnya.


Bagi yang ingin bergabung dengan komunitas ini atau peduli dengan pendidikan Indonesia dan ingin memberikan donasi, silakan hubungi email sahabatalor@gmail.com  atau kunjungi akun facebook & instagram Sahabat Alor. Terimakasih. 

You can have everything in life that you want if you just give enough other people what they want. #1000Sepatu untuk seribu langkah menuju masa depan cerah. Semangat taramiti tominuku!


Untuk satu tahun ini, weekend memang tidak ada artinya lagi. Piknik hanya bisa direalisasikan di hari libur "khusus" yang setiap bulannya belum tentu ada.

Libur paskah. Sudah pasti menjadi kesempatan untuk saya dan beberapa teman saya melanjutkan pesiar, berjelajah, mengexplore keindahan alam Alor yang jelas tidak akan ada habisnya. Setelah tiga bulan di tempat tugas, menghabiskan hari-hari tanpa jaringan dengan kegiatan yang kesannya monoton "itu-itu saja", tentu membuat saya bosan dan merasa agak sedikit tertekan (ah berlebihan, kan memang tugas tho?). Saya butuh hiburan, saya perlu DOLAN!




Kemana kita? Pulau Pura!

Dengan semangat empat-lima, kali ini kita menyeberang ke pulau Pura. Pulau terbesar ketiga setelah pulau Pantar dan pulau Alor. Pulau kecil yang berbentuk kerucut dengan hiasan beberapa kelompok pemukiman (kampung) yang tersebar di beberapa sudut bagian pinggir pesisir. Pulau ini menyimpan keunikan yang tidak dimiliki oleh pulau-pulau lain. Salah satunya yaitu sebutan pulau Pura sebagai pulau penghasil Sopi. Di pulau ini, kita kesulitan mendapatkan air tawar. Untuk kebutuhan sehari-hari, masyarakat menggunakan air payau. Sedangkan untuk minum, biasa mengambil dari Kalabahi atau mengonsumsi air Sopi. (Sopi merupakan minuman khas Alor yang terbuat dari sari tanaman lontar yang difermentasikan menjadi minuman memabukkan berkadar alkohol tinggi).



Pertama kali menaiki perahu motor; langgar laut.

Awalnya saya takut, langgar laut. Pukul 10.30 saya harus mengantar-jemput beberapa ibu guru (Lia, Yuni, Keke, dan Icha) dari sekretariat SM-3T di daerah Laut Tingara menuju pelabuhan. Beberapa ibu guru ini yang menemani saya berlayar menuju pulau Pura (karena jumlah bapak guru lebih sedikit dibanding ibu guru, maka para bapak guru dibagi rata untuk setiap kelompok pesiar). Pukul 11.00 perahu berangkat. Selama dua jam perjalanan kita disuguhi pemandangan yang menakjubkan. Letak pulau Pura yang bersebelahan dengan pulau Alor, pulau Pantar, pulau Kepa, pulau Ternate, dan pulau Buaya, memperlihatkan keelokan dinding-dinding bukit dari setiap pulau tersebut.

Sambutan istimewa. Wooh ada lumba-lumba!

Ketika sampai di kawasan mulut kumbang, pusaran air (pertemuan arus dari laut lepas yakni laut timor dengan laut di teluk Alor), saya sempat menjumpai secara langsung segerombolan ikan lumba-lumba berenang menampakkan diri di sekitar perahu motor. Kata para penumpang sebelah saya, tidak semua orang bisa mendapatkan moment langka tersebut. Nah, berarti saya termasuk yang beruntung ya? Memang saya beruntung. Pertama kali naik perahu motor langsung diberi pertunjukan spesial lumba-lumba. Hanya sayangnya, saya tidak pintar dalam mengabadikan moment tersebut. So, hasilnya? Bisa lihat sendiri foto di bawah ini... Kita sampai di Pulau Pura pada pukul 13.15 WITA. Oh ya, biaya transportasi perahu motor sekali jalan dari kota kabupaten Kalabahi sebesar 15rb rupiah.





Serba ikan, mari kita makan!

Sesampainya di Melangwala, salah satu kampung di Pura, tempat bertugas satu teman SM-3T yaitu ibu guru Siti Robingah, kita langsung disuguhi sajian makanan serba ikan tepat di halaman belakang MES di bawah rindangnya pohon asam dengan pemandangan langsung laut/selat Pura-Pantar. Nikmat! Setelah semua perut terasa kenyang, kita bergegas menuju bibir laut, menceburkan diri, bercengkrama dengan anak-anak kampung yang kebetulan sedang berenang atau mencari ikan. Seru!



Hasil memaksa, keliling Pulau Pura dengan perahu motor.

Berhubung ada satu lagi teman SM-3T yaitu bapak guru Beni Celak (bernama asli Ardian Nur Rizky) yang penempatan ada di belahan pulau Pura lainnya, kita juga tidak ingin melewatkan kesempatan untuk mengunjunginya. Sayang disayang, waktu itu hari sudah terlihat semakin gelap, jam pun sudah menunjukkan pukul lima, rasanya juga tidak mungkin jika kita tetap memaksakan diri untuk pergi ke sana. Tapi tunggu, Dewi Fortuna sepertinya masih ada dipihak kita. Tiba-tiba munculah seorang paman (lupa nama) dengan perahu motor cepat miliknya melintas dilaut depan halaman MES. Seketika ibu guru Siti berteriak merengek-rengek, memaksa si paman untuk mengantarkan kita. Dengan segala upaya, bujuk rayu, akhirnya paman menyetujuinya. Yohoooo... Kita berangkat menjemput bapak guru satu, menikmati senja, mengelilingi pulau Pura!!!!!!!!!!! Pagi harinya kita kembali ke kota Kalabahi.



Liburan singkat ini merupakan salah satu liburan terseru saya di Alor, banyak pengalaman "pertama" saya dapatkan di pulau ini. In short, indahnya alam Indonesia menjadikan bumi pertiwi kaya akan tempat berlibur dan rekreasi.

Sebagai seorang guru tentu ingin melihat anak didiknya lahir menjadi generasi yang berkarakter kritis, kreatif, mandiri, dan bertanggung jawab. Terlebih jika anak didik memiliki daya imajinasi yang luas serta memiliki rasa ingin tahu yang tinggi terhadap sesuatu baru.

Berbagai macam cara, saya coba terapkan dalam pembelajaran di kelas (sebut saja kelas TERDEPAN, TERLUAR, dan TERTINGGAL), mulai dengan melakukan pembelajaran di luar ruangan, menggunakan media sederhana, sampai terakhir menggunakan permainan sebagai alat evaluasi untuk mengetahui sejauh mana siswa paham terhadap materi yang sudah saya berikan.

Permainan yang saya gunakan terakhir kali merupakan permainan yang terinspirasi dari salah satu acara game show yang ada di saluran televisi Indonesia, yaitu Indonesia Pintar. Pesertanya terdiri dari empat orang. Satu sebagai penebak, satu sebagai penjelas, serta dua orang lainnya membantu sebagai operator yang mana bertugas menunjukkan kunci jawaban kepada peserta penjelas. Permainan dibatasi oleh waktu, dilakukan secara bergantian.

Saya pikir penerapan model pembelajaran seperti ini cukup efektif dalam meningkatkan minat belajar siswa. Suasana kelas terlihat aktif dan kondusif. Siswa juga tidak merasa jenuh. Mereka bahkan terlihat antusias, berusaha untuk lebih memahami materi demi mendapatkan skor yang tinggi.

Hal positif lainnya yang bisa diambil dari permainan ini adalah mengajarkan siswa untuk bisa bekerjasama (kerja tim), bertanggung jawab dengan tugas masing-masing, mengontrol diri, memanfaatkan waktu dengan sebaik mungkin (manajemen waktu), menciptakan suasana kompetisi yang sehat, serta yang paling penting siswa mampu meningkatkan kepercayaan diri mereka untuk berani bersaing, berdaya juang tinggi untuk mencapai hasil maksimal.

Meskipun banyak kendala yang dihadapi, dan dengan segala keterbatasan yang ada, pembelajaran alhamdulillah selalu berjalan lancar dan menyenangkan. SM3T benar-benar mengajarkan saya untuk bisa berpikir cepat, menelaah secara dalam kondisi siswa dan sekolah. Melaksanakan pembelajaran dengan berbagai cara dengan menggunakan alat-media yang memungkinkan untuk didapat atau dibuat, mengingat keadaan yang serba terbatas dikarenakan lokasi sekolah yang jauh dari pusat perkotaan.

Lepas dari paparan tentang "Permainan Indonesia Pintar" di atas, beberapa hal yang tetap menjadi PR penting / tantangan untuk saya sampai saat ini, yaitu harus selalu berinovasi, menciptakan model pembelajaran yang lebih menarik lagi. Mengajak siswa untuk mampu berbuat, mengamati, berinteraksi, dan merefleksi materi yang sudah dipelajari. Dalam mengajar berusaha tidak hanya sebatas memberi penjelasan secara ceramah atau sekadar bertanya jawab dengan pertanyaan-pertanyaan sederhana. Tetapi, menerapakan tugas dan pertanyaan yang sifatnya menganalisis, mengevaluasi, dan mengreasi dengan maksud mengembangkan potensi siswa walaupun tidak mudah dalam merumuskannya.